Original Soundtrack Movie Sang Pemimpi

December 7, 2009 at 3:08 am (OST Sang Pemimpi) (, , )

Original Soundtrack Movie (OST) Sang Pemimpi

Original Soundtrack Movie (OST) Sang Pemimpi

GIGI Dan Ungu Masuk Dalam OST ‘Sang Pemimpi’.
GIGI dan Ungu, menyumbangkan karyanya untuk menjadi sountrack film Sang Pemimpi karya Riri Reza. Buat Ungu, keterlibatannya dalam proyek ini ternyata menyelipkan sebuah pengalaman baru. ”Dari 10 album yang pernah kita buat, inilah pengalaman pertama kita membawakan lagu orang,” kata Pasha, vokalis Ungu, saat peluncuran album kompilasi original soundtrack ini di Jakarta, Senin (23/11) petang.

Lagu orang yang dimaksud Pasha tadi adalah lagu berjudul Cinta Gila. Lagu tersebut merupakan karya perdana dari penulis novel Andrea Hirata. Musiknya digarap oleh personel Ungu dengan penuh ceria lewat balutan musik berirama Melayu.

Pasha mengaku, ketika baru mendapatkan tawaran ini dirinya sempat ragu. ”Sebagai vokalis, awalnya sempat bingung karena takut tidak cocok saja,” katanya. ”Tetapi setelah bicara sama anak-anak dan melewati rangkaian workshop, akhirnya kita bisa juga melewatinya. Semoga bisa diterima,” lanjutnya.

Lalu bagaimana dengan Andrea Hirata yang menjadi penulis lagu? Tokoh Perubahan versi Republika ini merasa sangat senang karyanya bisa dibawakan oleh grup setenar Ungu. Tentang motivasinya membuat lagu, penulis novel tetralogi Laskar Pelangi ini mengaku karena ingin mengajak semua orang mempersepsikan ulang karyanya.

”Dalam karya saya itu banyak tragedi, kesedihan, tapi juga banyak tertawa dan menertawakan kesedihan. Saya berharap dengan adanya lagu ini bisa memberikan memberikan persepsi lain tentang saya dan karya-karya saya,” ujarnya.

Sementara itu bisa mendapatkan kesempatan mengisi film karya sekuel film laris Laskar Pelangi ini ternyata membuat GIGI merasa terbeban. Gitaris GIGI, Dewa Budjana, mengakui popularitas yang pernah mengantarkan Nidji sebagai pelantun theme song buat film Laskar Pelangi menjadi salah satu penyebabnya.

”Ya pastilah ada perasaan seperti itu,” kata Budjana. ”Biasanya kan setelah yang pertamanya sukses maka yang kedua bakal dituntut untuk bisa mengikuti sebelumnya. Jadi terus terang, ada juga sih sedikit beban.”

GIGI di dalam album soundtrack ini membawakan lagu tema berjudul Sang Pemimpi. Sepintas mendengarkan lagu yang dibawakan Armand cs terasa masih kurang gregetnya dibandingkan dengan lagu tema Laskar Pelangi yang pernah dibawakan oleh Nidji.

Tak pelak, dengan adanya asumsi itu membuat Mira Lesmana sedikit cemas. Mira merupakan produser dari film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. ”Awalnya saya mencoba untuk tidak terbebani dengan sukses Laskar Pelangi dengan lagu karya Giring dan Nidji. Tetapi mencari lagu yang pas buat tema utama Sang Pemimpi memang tidak mudah,” cerita Mira.

”Puluhan demo lagu dari band sudah masuk, tetapi belum ada yang saya rasakan pas untuk menjadi theme song. Sampai akhirnya saya bertemu dengan GIGI. Mereka kemudian mengirimkan tiga lagu dan tanpa ragu saya memilih salah satu lagunya sebagai theme song. Saya kok merasa ketika mendengarnya langsung merasakan ada aura Sang Pemimpi di dalam lagunya.”

Selain menghadirkan GIGI dan Ungu, dari 13 track yang tersedia turut terlibat pula sejumlah musisi kondang. Di antaranya ada Ipang yang membawakan lagu lama berjudul Apatis karya Ingrid Widjanarko. Kemudian ada juga Bonita yang pernah terlibat dalam proyek Lomba Cipta Lagu dan Lirik Muslim garapan Republika, Pay dan Dewiq yang menyumbangkan lagu berjudul Ini Mimpiku, serta Nugie yang membawakan Mengejar Mimpi.

Sementara itu untuk film Sang Pemimpi sendiri, Mira menjadwalkan akan merilis filmnya secara nasional pada 17 Desember mendatang. Film ini dijadwalkan juga akan mengikuti Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 serta Fstival Film Indonesia, penghujung Desember mendatang.

Track List:
01. Gigi – Sang Pemimpi
02. Ipang – Apatis
03. Ungu – Cinta Gila
04. Claudia Sinaga – Ini Mimpiku
05. Jay Wijayanto – Rentak 106
06. Ipang – Teruslah Bermimpi
07. Rendy – Zakiah Nurmala
08. Silentium – Para Pemimpi
09. Bonita – Komidi Putar
10. Rendy – Fatwa Pujangga
11. Maudy, Rendy, Claudia – Mengejar Mimpi
12. NineBall – Tetaplah Berdiri
13. Ungu – Cinta Gila (Bonus Version)
Untuk Info Lain Dan Download Album OST Sang Pemimpi, Klik Disini

Permalink Leave a Comment

Afgan – Bukan Cinta Biasa [Single baru 2009] [OST Bukan Cinta Biasa]

March 2, 2009 at 6:32 am (Afgan MP3) (, , , )

Afgan - Bukan Cinta Biasa

Afgan - Bukan Cinta Biasa

Lama ga’ terdengar, Afgan hadir dengan lagu Bukan Cinta Biasa. Lagu itu juga ternyata bakal jadi sountrack film Bukan Cinta Biasa, hmmh berjudul sama jadi kaya BBB. Gosip artis nyebutin kalo Afgan bakal adu akting di film ini.

Afgan yang ditemui di lokasi syuting video klip daerah kemang, sedikit berbagi tentang lagu dan filmnya,
“Lagu Bukan Cinta Biasa bakal jadi Sountrack Film Bukan Cinta Biasa. Konsep video klipnya sih simple cuman unik, dengan background putih polos. Ibaratnya, nanti itu kita ada di sebuah rumah kuno tapi ditengah lagu jadi di ruangan serba putih. Ada sedikit beban karena ini pengalaman pertama nyanyi buat film. Penghayatan juga harus dalem khan kalo ga’ dihayati ga’ bagus.”.

Afgansyah Reza juga ngaku kalo sekarang tambah gemuk.
“Iya nih, lagi gemukan. Naeknya 15 kg dari 65 jadi, eh dari 60 jadi 75 kg. Kata mama sih karena pengaruh umur jadi cepet gemuk. Umurku kan udah 20 taon. Dulu juga suka makan, tapi ga’ gampang gemuk. Jadinya pengen menguruskan lagi.

Satu Single Lagu Baru Dari Afgan
Afgan – Bukan Cinta Biasa

Untuk Info Lain Dan Download Lagu Afgan – Bukan Cinta Biasa, Klik Disini

Permalink 17 Comments

Slank – Generasi Biru [Full Album 2009]

February 21, 2009 at 4:49 am (Slank Band MP3) (, , , , )

Slank - Generasi Biru

Slank - Generasi Biru

Sinopsis
Sebuah film musikal sebagai perayaan 25 tahun perjalanan musik SLANK, Menceritakan pertemuan SLANK dengan tokoh-tokoh yang memiliki trauma terhadap kekerasan, politik, drugs dan cinta.Tokoh Bimbim bertemu dengan tokoh anak kecil yang selalu sembunyi di bawah meja karena melihat orang tuanya diculik saat dia bermain di bawah meja. Kaka bertemu dengan Nadine, Ivan dan Ridho bertemu tokoh manusia binatang yang berperilaku seperti binatang karena pernah merasakan dihajar layaknya seekor binatang, sementara Abdi bertemu dengan tokoh ibu yang anak-anaknya diculik di masa reformasi. SLANK berusaha melawan berbagai bentuk kekerasan dan cekal yang menyebabkan trauma-trauma tersebut. Pada akhirnya mereka bisa bersama- sama keluar menuju pulau biru. Pulau tanpa kekerasan dan ancaman, penuh dengan kedamaian.

Director : Garin Nugroho, John De Rantau, Dosy Omar
Producer : Ursula Tumiwa & Anastasia Rina
Duration : 90 Minutes
Production : Set Film & Shooting Star 2009

Cast : Kaka Slank, Bimbim Slank, IvanKa Slank,
Abdee Slank, Ridho Slank, Bunda Iffet, Nadine
Chandrawinata, Chichi Kadijono, Lio Gitta Purwanto,
Ophy Nambe, Helmi Prasetyo

Crew :
Directed by : Garin Nugroho, John De Rantau, Dosy Omar
Creative Idea : Garin Nugroho
Co. Director : Dian Sasmita
Executive Producer : Sihar P.H Sitorus, Garin Nugroho, Ursula Tumiwa, A. Radityo
Wibowo
Producer : Ursula Tumiwa, Anastasia Rina
Line Producer : Eri Kuswanda, Lia Amran
Director Of Photography : Arya Tedja, Padri Nadeak
Script Writing : Garin Nugroho
Creative and Post Production Supervisor : Arturo GP
Film Editor : Andhy Pulung
Art Director : Allan Sebastian
Sound Designer : Handi Ilfat, Satrio Budiono
Music Composer : Slank
Pantomine : Yayu Aw Unru
Choreographer : Eko Supriyanto, Davit Undry, Jecko Siompo
Animator : Ricky Zulman, Terra Bajraghosa, Adi Panuntun

Slank, Generasi Biru, dan DPR yang Gagap. [blog.liputan6.com]
Di awal dekade 1990-an, lima anak muda tampil di layar TVRI. Dengan gaya seenaknya meski agak sedikit kikuk, mereka menyanyikan lagu dalam iringan musik rock ‘n’ roll yang keras: “Memang, kantongku memang kering. Jangan menghina, yang penting bukannya maling. Memang, jaketku memang kotor. Jangan menghina, yang penting bukan koruptor……” Kelima anak muda yang tergabung dalam grup Slank itu–Bimbim (drum), Kaka (vokal), Pay (gitar), Indra (kibor), dan Bongki (bas)—tengah menyanyikan lagu Memang dari album Suit Suit He He. Saat itu, sesungguhnya publik tengah menjadi saksi: musik rock Indonesia tengah memasuki fase baru.

Sejak kemunculannya, Slank telah menjadi semacam gerakan kultural di kalangan anak muda. Mereka menempatkan rock ‘n’ roll tak hanya sebatas musik, tetapi juga sebagai sikap, pilihan hidup, dan senjata melawan kemapanan. Bahkan ketika formasi personel mereka berganti menjadi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Abdee (gitar), Ridho (gitar), dan Ivanka (bas), semangat itu tidak juga padam. Cikal bakal Slank sebenarnya telah ada sejak tahun 1983, ketika masih bernama Cikini Stones Complex (CSC) yang menyanyikan lagu-lagu The Rolling Stones. Namun, tonggak terpenting pengaruh Slank terhadap musik Indonesia terjadi pada tahun 1990-an, sejak mereka mengeluarkan album Suit Suit He He.

Kekuatan utama Slank sesungguhnya terletak pada kemampuan mereka mengartikulasikan suara dan sikap anak-anak muda. Di sisi lain, warna musik mereka –ditambah gaya mereka yang seenaknya—memancarkan gelora pembebasan. Sejak awal kemunculannya, mereka lebih banyak membebaskan pikiran anak-anak muda dari kungkungan kultur konvensional. Semangat pembebasan itu terlihat dalam menyikapi berbagai persoalan, dari mulai urusan percintaan, birokrasi korup, budaya feodalisme, pembabatan hutan, kesenjangan ekonomi, masalah politik, dan lain-lain. Sikap itu tentunya disuarakan dalam gaya khas anak muda. Misalnya, kejengkelan mereka terhadap proses regenerasi kepemimpinan di negeri ini, terlihat dalam lirik lagu lagu Utopia: “…Cuci kaki saja, pada tidur semua. Biar kami saja yang jaga malam. Kalian sudah tua…. Minggir…!!”

Sikap dan gaya Slank yang apa adanya, serta kemampuan mereka mengartikulasikan gelora anak muda, telah melahirkan fanatisme yang luar biasa. Pendukung fanatis mereka yang menamakan diri Slanker diperkirakan mencapai jutaan orang, dan terus beregenerasi sejak tahun 1990-an hingga kini. Slank sendiri memproklamirkan generasi Slanker ini sebagai “generasi biru”, seperti mereka suarakan dalam lagu Generasi Biru: “..Aku bukan pion-pion catur. Aku gak suka diatur-atur. Jangan coba halangi aku, karna aku generasi biru……. Biarkan terbuka lebar, gak perlu tutup mataku. Aku ingin melihat jelas. Ini zaman generasi biru. Oh biarkanku teriak lantang, untuk apa sumbat mulutku. Aku ingin menyanyi keras. Ini lagu generasi biru…”

Namun, meski gaya komunikasi Slank sangat apa adanya, ternyata elite yang ada di institusi kenegaraan masih ada yang kesulitan mencernanya. Gayus Lumbuun dari Badan Kehormatan DPR sempat mempersoalkan lagu Slank berjudul Gosip Jalanan, yang bagian liriknya antara lain berbunyi: “mau tau gak mafia di Senayan? Kerjanya tukang buat peraturan. Bikin UUD, ujung-ujungnya duit.” Sikap anggota DPR ini menggelikan sekaligus memprihatinkan. Menggelikan, karena tiba-tiba anggota DPR menjadi “polisi” bagi standar kualitas dan nilai moral suatu karya seni. Memprihatinkan, karena DPR begitu gagap mencerna aspirasi yang berasal dari bawah. Ini bisa menjadi pertanda bahwa DPR tidak peka terhadap persepsi masyarakat tentang DPR. Bagaimana DPR bisa bercermin melihat dirinya sendiri jika mereka tidak mengakomodasi suara sebagian masyarakat yang muak dengan perilaku sejumlah anggota DPR.

Slank sendiri tidak perlu bersusah-payah mengeluarkan argumen. Jawaban itu datang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK): seorang anggota DPR ditahan karena dugaan kasus suap. Dan yang lebih penting lagi bagi Slank, kreatifitas mereka tidak bisa “diganggu”, seperti tergambar dalam lagu mereka berjudul Percuma:

Aku orang bebas, yang terbang melayang seperti angin. Aku ini orang bebas, dan tak akan bisa dikuasai.

Track List:
01 – Slank Dance
02 – Monogami
03 – Generasi Biroe
04 – Bang Bang Tut
05 – Gossip Jalanan
06 – Terbunuh Sepi
07 – Pulau Biru
08 – Loe Harus Grak
09 – Missing Person
10 – Utopia
11 – Bendera ½ Tiang
12 – Indonesiakan Una (Live)
13 – Mars Slankers (Live)
14 – Cekal (Remake ’09)
15 – Koepoe Liarkoe

Untuk Info Lain Dan Download Album Slank – Generasi Biru, Klik Disini

Permalink 1 Comment

Lea Simanjuntak – The One You Loved (New Single Ost. Sountrack Pelangi Di Atas Prahara)

September 15, 2008 at 6:27 pm (OST Pelangi Di Atas Prahara MP3) (, , , )

Ost. Pelangi Di Atas Prahara

Ost. Pelangi Di Atas Prahara

Tentang Film Pelangi Di Atas Prahara Dan Soundtracknya

Bikin Aja Dulu!
Banjir film Indonesia di jaringan bioskop 21 boleh bikin hati bangga. Tetapi, lebih dari itu, gerakan film karya mahasiswa juga mulai bikin dobrakan tersendiri. Digarap serius walaupun sang pembuat umumnya bukan berlatar belakang perfilman.

Gue dari dulu suka nonton film. Saat nonton gue suka mikir sesusah apa sih bikin film, lalu produksi film itu seperti apa? Makanya, saat gue berhasil membuat film, temanya juga enggak susah-susah amat. Kejadian yang sehari-hari kita temui saja,” ujar Marianne Rumantir sutradara Aku Dia Dan Mereka serta Satu Lagi. Atau simak komentar Putra Arradin sutradara Pelangi di Atas Prahara, yang filmnya baru saja diputar di Goethe Haus dan Graha Purna Wira Polri di Wijaya pertengahan bukan Februari kemarin. “Gue merasa terpacu saja sih sama anak-anak (mahasiswa) lain. Mereka yang cuma punya tim tujuh orang masa bisa bikin. Sementara gue yang punya tim lebih banyak masa tidak bisa bikin,” repet cowok botak ini.

Marianne dan Putra tidak sendiri. Masih ada Nurmi Pandhit yang sudah menyutradarai dua film: Indah Dalam Praduga serta sebuah sebuah film pendek Silent. Atau Ade Habibie yang kemudian menghasilkan Kenangan Lama Timbul Kembali. Tidak perlu menjadi sutradara, menjadi produser merangkap pemain pun dijalankan Revelino Gerungan lewat Bunian sebuah kisah horor yang memilih road show dari kampus ke kampus untuk masalah screening-nya.

Nama-nama di atas bisa dibilang sebagai generasi penerus, yang akan meneruskan produksi film Indonesia di masa mendatang. Sebuah generasi yang tumbuh dan berkembang di luar negeri, akrab dengan film Hollywood, ngerti banget MTV, dan apa itu budaya pop.

Maka, jangan heran ketika film yang dihasilkan pun temanya tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari mereka, kejadian yang pasti juga kita jumpai setiap hari. Masalah long distance relationship, cinta antar-dua ras yang berbeda, atau malah kasus video porno pun sah saja dijadikan tema cerita film mereka.

Toh pesan yang ingin disampaikan tidak hanya masalah tema yang jamak dijumpai sehari-hari. Ada satu pesan yang coba disampaikan oleh mereka. “Kami mau memperlihatkan bahwa anak Indonesia yang kuliah di luar tidak hanya lontang-lantung tanpa tujuan. Soalnya, saat kuliah di luar kreativitas kami malah lebih kegali lagi,” ujar Ade Habibie. Buktinya, cowok yang akrab disapa Ade ini merasa bahwa filmnya ini hanya salah satu “karya” dalam mengapresiasikan dunia seni yang sudah lama ditekuninya. Sekarang cowok keling ini lagi sibuk sama proyek barunya, dua grup musik beraliran elektronik bernama Electronic Groove dan Rock and Roll Mafia.

Pembuktian seperti itu seakan menjadi hal yang paling penting. Terutama pembuktian kepada orangtua masing-masing. Bukti bahwa anak yang mereka kuliahkan ke luar negeri dengan biaya yang sangat mahal mampu menghasilkan sesuatu. “Ayah gue sering hanya melihat sebelah mata sama video klip yang gue buat. Jadi, film ini seperti menjadi salah satu pembuktian,” beber Patrick Effendy, duet Marianne dalam menyutradarai Satu Lagi.

Kendala
“Kuliah di luar tuh bosen banget. Kadang kami suka enggak tahu mau ngapain,” curhat Putra suatu kali. Dan membuat film bisa dibilang sebagai pelarian rasa bosen mereka. Tetapi, biarpun menjadi pelarian, tetap saja semua harus digarap secara serius walaupun peralatan dan dana yang tersedia kadang sangat minim. “Gue selalu bilang sama teman-teman gue, ini proyek belajar. Apabila mau belajar ayo bikin. Tetapi, apabila nolak ya sudah tidak apa-apa. Makin giat ikutan berarti belajarnya makin banyak,” tambah Pandhit lagi.

Masalah biaya, biarpun menjadi hal yang paling krusial, kadang malah bisa ditekan seminim mungkin. Banyak pemain dan kru yang rela tidak dibayar demi kelangsungan produksi film. “Buat produksi Bunian saja kami hanya menghabiskan sekitar 3.000 dollar Australia (setara dengan 15 juta rupiah),” beber Revel. “Buat film kami, editing-nya cukup di rumah memakai program Final Cut Pro 2. Kameranya juga tidak pakai yang mahal,” tambah Ade tentang produksi filmnya.

Putra lebih nekat lagi. Bareng kru SUB Production, cowok yang mengambil jurusan Master of Media Management ini menukarkan uang kas SUB Production sebesar 300 dollar Australia dan mendapatkan sekitar 1,5 juta rupiah. Langsung saja uangnya dipakai berburu barang di Tanah Abang. “Beli lampu, kabel panjang, kabel rol, kertas layangan buat filter lampu, semuanya belanja di Tanah Abang. Bener-bener sederhana banget. Kamera saja kami hanya pakai handycam Canon XM-2. Yang penting jadi dulu film ini no matter what,” kata Putra lebih lanjut. Dukungan Curtin University kampus tempatnya belajar akhirnya datang. Masalah kamera yang cupu bisa digantikan dengan kamera yang lebih beradab. Akhirnya Pelangi di Atas Prahara bisa dinikmati.

Dukungan alat dari kampus kadang bener-bener membantu mereka. Lihatlah Marianne, yang didukung penuh kampusnya RMIT, saat memproduksi Aku Dia Dan Mereka. “Soalnya, film itu rencananya menjadi project akhir buat gue sama kelompok gue,” kenangnya.

Kendala alat dan biaya kadang malah tidak terasa sama sekali. Makin repot apabila banyak kru dan pemain yang tinggal di kota yang berlainan dan banyak yang sudah bekerja. “Film ini gue buat bertiga bareng temen gue, Krishna dan Eben. Saat film ini dibuat, banyak yang sudah lulus dan bekerja. Jadi, masalah yang paling kami rasakan ya kontinuitas gambar. Kasihan banget yang jadi pencatat adegan, soalnya syutingnya sering terpotong-potong,” tukas Ade.

Digarap serius
Semua kendala dan halangan pasti dilibas bila niat sudah bulat. Pandhit yang sempet bingung karena biaya penyewaan kamera tidak sesuai sama bujet produksi, akhirnya mengalah menggunakan kamera handycam biasa. “Paling penting harus jadi dulu filmnya. Masalah hasil nanti dulu. Soalnya kalo nunggu terus kesempatan belum tentu datang lagi,” ujar cowok yang lagi berniat membuat film tentang anak band.

Maka, ketika bicara mengenai teknis film, tidak ada yang terlalu istimewa yang bisa dibanggakan atas hasil karya kakak-kakak mahasiswa ini. Masalah gambar gelap atau warna antar-scene belang karena menggunakan dua kamera yang berbeda jadi hal yang biasa. Tetapi, bicara semangat, mereka bisa diandalkan. Semua digarap secara serius, mulai dari produksi sampai masalah screening. Poster film juga selalu dibuat fresh khas anak muda.

Soundtrack juga bisa jadi lahan bisnis tersendiri. Boro-boro mencomot lagu band lain yang kadung sudah top, mereka malah mengajak kawan-kawannya yang sudah biasa main band untuk mengisi soundtrack film mereka. Malah bukan rahasia lagi kalo video klip original soundtrack Pelangi di Atas Prahara lagi rajin wira wiri di MTV Global.

Pandhit dengan karyanya Indah Dalam Praduga mengaku kalo urusan soundtrack memang menjadi perhatian serius buat dirinya. Biar rekaman tetap dibuat di rumah menggunakan komputer rumah, divisi soundtrack Indah Dalam Praduga sadar sama peluang bisnis yang tersedia. “Mereka langsung menawarkan diri membeli royalti soundtrack film gue. Ya sudah gue kasih, gue sih senang-senang saja,” bebernya.

Atau Marianne yang punya produser sendiri untuk urusan soundtrack film perdananya Aku Dia dan Mereka. Buat proyek keduanya, Satu Lagi, Peter Pan pun didaulat untuk mengisi original soundtrack dengan singel andalan Kami Tertawa. Rencananya apabila tidak ada halangan Juni tahun ini kita sudah bisa menyaksikan film Satu Lagi, yang bertema parodi.

Bawa ke Indonesia
Masalah screening di negara asal tempat mereka kuliah pastinya bukan masalah. Karena market-nya jelas dan bisa dipastikan semua modal produksi balik 100 persen. Tantangan tentunya datang saat memutuskan untuk membawa film mereka diputar di Indonesia. “Tantangan banget. Soalnya market Indonesia (khususnya Jakarta) selektif banget,” aku Putra. “Gue juga tidak mau dikira sombong. Soalnya, orang pasti mikir kalo kami yang datang dari luar cuma gaya-gayaan saja bikin film. Padahal enggak, kami cuma mau film kami ditonton, tidak lebih. Gue juga ngerasa beruntung dapat banyak dukungan,” tambah Marianne.

Walaupun banyak yang datang bukan dari sekolah film, tetapi umumnya mengaku bahwa ilmu saat kuliah pasti sangat berguna untuk kepentingan filmnya. Revel, misalnya, cowok yang mengambil marketing di Charles Strut University ini mengaku kalo ilmu marketingnya berguna sekali saat “menjual” filmnya ke sponsor. “Gue juga jadi kenal banyak orang. Mulai dari lingkungan kampus sampai media. Pengaturan bujet untuk screening juga bisa dipangkas,” papar Revel.

Kecintaan pada filmlah yang membuat mereka semua bertemu dalam satu bidang. Walaupun latar belakang kuliah tidak ada yang di bidang film, mereka tetap yakin sama jalur yang mereka tempuh. Selama kesempatan itu ada, kenapa juga tidak direbut?

Soundtrack Film Pelangi Di Atas Prahara
Lea Simanjuntak – The One You Loved

Untuk Info Lain Dan Download Lagu Lea Simanjuntak – The One You Loved, Klik Disini

Permalink 1 Comment

Melly Goeslaw Feat (Duet) Yusry KRU – Dibius Cinta [OST Soundtrack Cicakman 2 - Planet Hitam]

September 14, 2008 at 10:02 am (OST Cicakman 2 - Planet Hitam MP3) (, , )

Melly Goeslaw Ft Yusry KRU - Dibius Cinta

Melly Goeslaw Ft Yusry KRU - Dibius Cinta

KEJAYAAN filem sulung terbitan KRU, Cicakman yang meraih kutipan filem tempatan tertinggi 2006 berjumlah RM6.7 juta menjadi sandaran buat trio adik-beradik tampil dengan sekual Cicakman 2 – Planet Hitam yang akan menjengah pawagam akhir tahun ini.

Bagaimanapun pengarahnya, Yusry Abdul Halim tidak berani meletakkan harapan tinggi terhadap filem ini melihatkan keadaan semasa yang tidak menentu akibat kenaikan harga minyak sehingga menjejaskan kutipan filem antarabangsa.

“Susah nak cakap sebab situasi pasaran sekarang berubah-ubah. Sejak harga minyak naik, bukan saja harga barang turut naik, malah kutipan filem termasuk Hollywood pun terjejas.

“Memang saya menaruh harapan untuk filem ini mencapai kutipan pecah panggung. Tetapi saya perlu berpijak di bumi nyata dan mengakui keadaan pasaran sekarang.

“Biarlah sasaran yang diletakkan logik dan tidak terlalu tinggi,” katanya ketika ditemui pada majlis pengumuman kerjasama antara KRU Studios dan Celcom (M) Bhd, baru-baru ini.

Kata pengarah muda itu lagi, filem yang menjalani penggambaran di Kuala Lumpur, Pulau Pinang dan Perak selama 35 hari akhir tahun lalu menjalani proses pasca produksi lebih tujuh bulan termasuk memasukkan teknik imej janaan komputer (CGI).

Katanya, hampir separuh filem itu menggunakan CGI membabitkan lebih 800 shot. Teknik berkenaan digunakan untuk menampilkan suasana berbeza dari segi landskap, pertarungan dan beberapa perkara lagi.

“Cicakman pertama lebih kepada eksperimen dan kami banyak menerima maklum balas serta komen membina. Dari situ, Cicakman 2 – Planet Hitam memperbetulkan kekurangan apabila kita menukar kostum, menambah aksi, dan mengurangkan komedi.

“Jalan ceritanya agak berat sedikit berbanding yang pertama kerana Cicakman kali ini mempunyai banyak tanggungjawab dan banyak musuh. Tetapi ia masih mengekalkan konsep aksi komedi,” katanya.

Dari segi aksi lagak ngeri pula, ada yang dilakukan pelakon asal sendiri serta menggunakan khidmat pelagak ngeri dan membabitkan teknik CGI. Kata Yusry, ada pelakon seperti Saiful Apek yang sanggup melakukan sendiri aksi ngeri, tetapi terpaksa ditolak bimbang terjadi perkara yang tidak diingini.

Sepuluh lagu baru dicipta sebagai lagu tema dan dimuatkan dalam album runut bunyi Cicakman 2 – Planet Hitam antaranya Planet Hitam (Tyco), Dibius Cinta (Melly Goeslow dan Yusry KRU) serta Mau Yang Besar (Pianka).

Lagu Dibius Cinta menjadi lagu duet pertama Melly Goeslow bersama artis Malaysia. Kata Yusry, tidak sukar berkerjasama dengan Melly kerana dia begitu senang memberikan komitmen, malah turut memberi idea untuk pembikinan video klip yang menjalani penggambaran sehari di Jakarta, Indonesia.

Selain mengekalkan pelakon asal seperti Saiful Apek sebagai Cicakman/Hairi, Aznil Nawawi (Profesor Klon), Fasha Sandha (Tania), AC Mizal dan Adlin Aman Ramli (Ginger Ghost), ia turut dibintangi muka baru seperti Sharifah Amani (Iman), Tamara Blaszenky (Rrama) dan Louisa Chong (Miss Cheef) selain beberapa penampilan khas daripada Linda Onn dan Julia Zieglar.

Sementara itu Presiden dan Ketua Pegawai Eksekutif KRU Studios, Norman Abdul Halim, berkata filem ini juga turut mendapat pengiktirafan rasmi di Festival Filem Antarabangsa Pusan ke-13 pada 2 hingga 10 Oktober ini melalui jemputan ‘World Premier’ bagi segmen Super Hero di rantau Asia.

“Filem yang akan mula menemui penonton di 60 pawagam tanah air pada 11 Disember ini akan diedarkan di empat negara apabila Grand Brilliance Sdn Bhd (GBSB) akan mengedar untuk pasaran Malaysia dan Brunei, Cathay-Keris Films Pte Ltd (Singapura) dan PT Tripar Multi Vision Plus (Indonesia).

“Bagi mevariasikan koleksi peribadi, terdapat banyak produk Cicakman yang boleh diperoleh antaranya siri komik, barangan sekolah, buku warna dan novel. Paling terbaru, kini turut dipasarkan novel Rrama, watak baru yang diperkenalkan dalam Cicakman 2 – Planet Hitam,” katanya.

Kerjasama antara KRU Studios dan Celcom terjalin selaras pakatan perniagaan lebih strategik bukan saja untuk promosi filem yang dinantikan tahun ini, tetapi juga pelbagai tawaran menarik bagi pelanggan Celcom.

Filem terbitan KRU Studios dengan kerjasama GBSB ini baru selesai proses pembikinan ‘A Print’ di Bangkok, Thailand dan mendapat kelulusan bersih Lembaga Penapisan Filem Malaysia untuk tontonan umum.

Naib Pengerusi Kanan Pemasaran Celcom, Zalman Aefendy, berkata sebagai penaja utama, Celcom menawarkan kandungan mudah alih yang menarik kepada peminat antaranya nada dering monofonik, polifonik, logo operator, trailer dan banyak lagi berkaitan filem ini.

Lagu OST Soundtrack Cicakman 2 – Planet Hitam
Melly Goeslaw Duet Yusry KRU – Dibius Cinta

Untuk Info Dan Download Lagu Melly Goeslaw Feat Yusry KRU – Dibius Cinta, Klik Disini

Permalink 2 Comments

Ayushita – Tuhan Beri Aku Cinta [OST Soundtrack Film Ketika Cinta Bertasbih]

September 10, 2008 at 10:07 pm (OST Ketika Cinta Bertasbih MP3) (, , )

“]Ayushita - Tuhan Beri Aku Cinta [OST Ketika Cinta Bertasbih]

Ayushita - Tuhan Beri Aku Cinta [OST Ketika Cinta Bertasbih

Kapanlagi.com – Modal utama menjadi penyanyi jelas suara bagus. Tapi lain bagi Ayu Shita. Mengaku tak punya suara bagus, tetap saja ia berani nyanyi. Dan tak tanggung–tanggung, dia nyanyi solo lagu ciptaan Melly Goeslaw, berjudul Tuhan Beri Aku Cinta, yang akan dijadikan Ost film KETIKA CINTA BERTASBIH.

“Selama ini gak ada yang bilang suara saya bagus,” akunya, saat disambangi di lokasi syuting video klip, Shisha Café Kemang, Senin (28/7).

Ia hanya menyebut keterlibatannya di sini sebagai satu ‘ketidaksengajaan’. Di saat Melly punya lagu tapi belum ketemu penyanyinya dan pada saat itu Ayu ditawari. Ayu pun langsung mengangguk, apalagi keduanya pernah kerjasama saat Ayu di Bukan Bintang Biasa (BBB).

“Dan kebetulan juga, schedule-nya pas,” ujarnya.

Tapi ini bukan berarti Ayu bakal alih profesi. Walaupun terlihat giat latihan vocal, secara pribadi Ayu menyatakan dirinya belum siap untuk nyanyi solo. “Paling ngikut proyek seperti ini,” tuturnya.

Dalam video klip Tuhan Beri Aku Cinta yang digarap sutradara Eko Kristianto, karakter Ayu terlihat sendu tanpa senyum dengan balutan busana khas dan aksesoris timur tengah. “Makanya dari tadi gak ada senyumnya,” pungkasnya.

Ayushita – Tuhan Beri Aku Cinta

Untuk Info Lain Dan Download Lagu Ayushita – Tuhan Beri Aku Cinta [OST Ketika Cinta Bertasbih], Klik Disini

Permalink 7 Comments

Marshanda – Ketulusan Hati (Ost. Aqso & Madina) (New Religi Single 2008)

August 24, 2008 at 7:32 am (Marshanda MP3) (, , , )

Marshanda - Ketulusan Hati (Ost. Aqso & Madina)

Marshanda - Ketulusan Hati (Ost. Aqso & Madina)

Kapanlagi.com – Bulan suci Ramadhan sudah mendekat, dan stasiun RCTI menyiapkan sinetron khusus bertajuk AQSO & MADINA, yang dibintangi antara lain oleh Dude Herlino, Marshanda, Carissa Putri, Ibnu Jamil, Winky Wiryawan, Eeng Saptahadi, dan Drg Fadly.

“AQSO & MADINA ini merupakan sinetron Ramadhan yang akan ditayangkan setiap hari mulai Jumat, 15 Agustus,” kata staf humas RCTI, Ully, kepada wartawan yang berkunjung ke lokasi syuting sinetron tersebut di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (13/8).

Dipersiapkan sepanjang 24 episode, AQSO & MADINA bercerita tentang konflik-konflik di dalam kehidupan dua keluarga taat beragama yang harus kehilangan anak dan menantu kesayangan.

Konflik bermula ketika Pasha (Winky Wiryawan) meninggal dunia dalam satu kecelakaan pesawat terbang, dan meninggalkan isterinya, Safira (Carissa Putri) dalam keadaan hamil.

Tidak ingin Safira melahirkan anak tanpa suami, orang tua Pasha meminta putera mereka yang kedua, Aqso (Dude Herlino), untuk menjadi suami Safira.

Demi bakti kepada keluarga, Aqso pun bersedia, tetapi ia tidak bisa menipu hatinya yang sangat mencintai Madina (Marshanda), adik kandung Safira.

Sama seperti sinetron-sinetron ‘stripping’ (ditayangkan setiap hari), AQSO & MADINA produksi SinemArt ini pun mengalami kondisi kejar tayang. Hal demikian setidaknya diungkapkan oleh Drg Fadly, yang diwawancarai saat ‘break’.

Berperan sebagai Juwono, ayah Pasha dan Aqso, bintang film yang populer di era 1980-an ini menyatakan kerja dalam kondisi kejar tayang membutuhkan tenaga ekstra para pemeran, baik dalam hal kesiapan fisik maupun kemampuan berakting.

“Naskah baru diterima di lokasi syuting. Ini berarti kemampuan akting para pemain sangat dituntut maksimal,” katanya.

Ketika ditanyakan apakah sinetron ini memiliki kekuatan cerita yang sesuai kehidupan sosial di tengah masyarakat, Drg Fadly menjawab tegas, “Ya!”

“Sayangnya, mungkin karena berbagai tuntutan kejar tayang, saya lihat ada penumpukan adegan. Kalau saja dipanjangkan menjadi beberapa bagian, saya kira penuturannya akan lebih lengkap dan pemain pun bisa maksimal dalam berakting,” pungkasnya. (kpl/bun)

Lagu Soundtrack Sinetron AQSO & MADINA
Marshanda – Ketulusan Hati

Untuk Info Lain Dan Download Lagu Marshanda – Ketulusan Hati, Klik Disini

Permalink 10 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.