Lea Simanjuntak – The One You Loved (New Single Ost. Sountrack Pelangi Di Atas Prahara)

September 15, 2008 at 6:27 pm (OST Pelangi Di Atas Prahara MP3) (, , , )

Ost. Pelangi Di Atas Prahara

Ost. Pelangi Di Atas Prahara

Tentang Film Pelangi Di Atas Prahara Dan Soundtracknya

Bikin Aja Dulu!
Banjir film Indonesia di jaringan bioskop 21 boleh bikin hati bangga. Tetapi, lebih dari itu, gerakan film karya mahasiswa juga mulai bikin dobrakan tersendiri. Digarap serius walaupun sang pembuat umumnya bukan berlatar belakang perfilman.

Gue dari dulu suka nonton film. Saat nonton gue suka mikir sesusah apa sih bikin film, lalu produksi film itu seperti apa? Makanya, saat gue berhasil membuat film, temanya juga enggak susah-susah amat. Kejadian yang sehari-hari kita temui saja,” ujar Marianne Rumantir sutradara Aku Dia Dan Mereka serta Satu Lagi. Atau simak komentar Putra Arradin sutradara Pelangi di Atas Prahara, yang filmnya baru saja diputar di Goethe Haus dan Graha Purna Wira Polri di Wijaya pertengahan bukan Februari kemarin. “Gue merasa terpacu saja sih sama anak-anak (mahasiswa) lain. Mereka yang cuma punya tim tujuh orang masa bisa bikin. Sementara gue yang punya tim lebih banyak masa tidak bisa bikin,” repet cowok botak ini.

Marianne dan Putra tidak sendiri. Masih ada Nurmi Pandhit yang sudah menyutradarai dua film: Indah Dalam Praduga serta sebuah sebuah film pendek Silent. Atau Ade Habibie yang kemudian menghasilkan Kenangan Lama Timbul Kembali. Tidak perlu menjadi sutradara, menjadi produser merangkap pemain pun dijalankan Revelino Gerungan lewat Bunian sebuah kisah horor yang memilih road show dari kampus ke kampus untuk masalah screening-nya.

Nama-nama di atas bisa dibilang sebagai generasi penerus, yang akan meneruskan produksi film Indonesia di masa mendatang. Sebuah generasi yang tumbuh dan berkembang di luar negeri, akrab dengan film Hollywood, ngerti banget MTV, dan apa itu budaya pop.

Maka, jangan heran ketika film yang dihasilkan pun temanya tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari mereka, kejadian yang pasti juga kita jumpai setiap hari. Masalah long distance relationship, cinta antar-dua ras yang berbeda, atau malah kasus video porno pun sah saja dijadikan tema cerita film mereka.

Toh pesan yang ingin disampaikan tidak hanya masalah tema yang jamak dijumpai sehari-hari. Ada satu pesan yang coba disampaikan oleh mereka. “Kami mau memperlihatkan bahwa anak Indonesia yang kuliah di luar tidak hanya lontang-lantung tanpa tujuan. Soalnya, saat kuliah di luar kreativitas kami malah lebih kegali lagi,” ujar Ade Habibie. Buktinya, cowok yang akrab disapa Ade ini merasa bahwa filmnya ini hanya salah satu “karya” dalam mengapresiasikan dunia seni yang sudah lama ditekuninya. Sekarang cowok keling ini lagi sibuk sama proyek barunya, dua grup musik beraliran elektronik bernama Electronic Groove dan Rock and Roll Mafia.

Pembuktian seperti itu seakan menjadi hal yang paling penting. Terutama pembuktian kepada orangtua masing-masing. Bukti bahwa anak yang mereka kuliahkan ke luar negeri dengan biaya yang sangat mahal mampu menghasilkan sesuatu. “Ayah gue sering hanya melihat sebelah mata sama video klip yang gue buat. Jadi, film ini seperti menjadi salah satu pembuktian,” beber Patrick Effendy, duet Marianne dalam menyutradarai Satu Lagi.

Kendala
“Kuliah di luar tuh bosen banget. Kadang kami suka enggak tahu mau ngapain,” curhat Putra suatu kali. Dan membuat film bisa dibilang sebagai pelarian rasa bosen mereka. Tetapi, biarpun menjadi pelarian, tetap saja semua harus digarap secara serius walaupun peralatan dan dana yang tersedia kadang sangat minim. “Gue selalu bilang sama teman-teman gue, ini proyek belajar. Apabila mau belajar ayo bikin. Tetapi, apabila nolak ya sudah tidak apa-apa. Makin giat ikutan berarti belajarnya makin banyak,” tambah Pandhit lagi.

Masalah biaya, biarpun menjadi hal yang paling krusial, kadang malah bisa ditekan seminim mungkin. Banyak pemain dan kru yang rela tidak dibayar demi kelangsungan produksi film. “Buat produksi Bunian saja kami hanya menghabiskan sekitar 3.000 dollar Australia (setara dengan 15 juta rupiah),” beber Revel. “Buat film kami, editing-nya cukup di rumah memakai program Final Cut Pro 2. Kameranya juga tidak pakai yang mahal,” tambah Ade tentang produksi filmnya.

Putra lebih nekat lagi. Bareng kru SUB Production, cowok yang mengambil jurusan Master of Media Management ini menukarkan uang kas SUB Production sebesar 300 dollar Australia dan mendapatkan sekitar 1,5 juta rupiah. Langsung saja uangnya dipakai berburu barang di Tanah Abang. “Beli lampu, kabel panjang, kabel rol, kertas layangan buat filter lampu, semuanya belanja di Tanah Abang. Bener-bener sederhana banget. Kamera saja kami hanya pakai handycam Canon XM-2. Yang penting jadi dulu film ini no matter what,” kata Putra lebih lanjut. Dukungan Curtin University kampus tempatnya belajar akhirnya datang. Masalah kamera yang cupu bisa digantikan dengan kamera yang lebih beradab. Akhirnya Pelangi di Atas Prahara bisa dinikmati.

Dukungan alat dari kampus kadang bener-bener membantu mereka. Lihatlah Marianne, yang didukung penuh kampusnya RMIT, saat memproduksi Aku Dia Dan Mereka. “Soalnya, film itu rencananya menjadi project akhir buat gue sama kelompok gue,” kenangnya.

Kendala alat dan biaya kadang malah tidak terasa sama sekali. Makin repot apabila banyak kru dan pemain yang tinggal di kota yang berlainan dan banyak yang sudah bekerja. “Film ini gue buat bertiga bareng temen gue, Krishna dan Eben. Saat film ini dibuat, banyak yang sudah lulus dan bekerja. Jadi, masalah yang paling kami rasakan ya kontinuitas gambar. Kasihan banget yang jadi pencatat adegan, soalnya syutingnya sering terpotong-potong,” tukas Ade.

Digarap serius
Semua kendala dan halangan pasti dilibas bila niat sudah bulat. Pandhit yang sempet bingung karena biaya penyewaan kamera tidak sesuai sama bujet produksi, akhirnya mengalah menggunakan kamera handycam biasa. “Paling penting harus jadi dulu filmnya. Masalah hasil nanti dulu. Soalnya kalo nunggu terus kesempatan belum tentu datang lagi,” ujar cowok yang lagi berniat membuat film tentang anak band.

Maka, ketika bicara mengenai teknis film, tidak ada yang terlalu istimewa yang bisa dibanggakan atas hasil karya kakak-kakak mahasiswa ini. Masalah gambar gelap atau warna antar-scene belang karena menggunakan dua kamera yang berbeda jadi hal yang biasa. Tetapi, bicara semangat, mereka bisa diandalkan. Semua digarap secara serius, mulai dari produksi sampai masalah screening. Poster film juga selalu dibuat fresh khas anak muda.

Soundtrack juga bisa jadi lahan bisnis tersendiri. Boro-boro mencomot lagu band lain yang kadung sudah top, mereka malah mengajak kawan-kawannya yang sudah biasa main band untuk mengisi soundtrack film mereka. Malah bukan rahasia lagi kalo video klip original soundtrack Pelangi di Atas Prahara lagi rajin wira wiri di MTV Global.

Pandhit dengan karyanya Indah Dalam Praduga mengaku kalo urusan soundtrack memang menjadi perhatian serius buat dirinya. Biar rekaman tetap dibuat di rumah menggunakan komputer rumah, divisi soundtrack Indah Dalam Praduga sadar sama peluang bisnis yang tersedia. “Mereka langsung menawarkan diri membeli royalti soundtrack film gue. Ya sudah gue kasih, gue sih senang-senang saja,” bebernya.

Atau Marianne yang punya produser sendiri untuk urusan soundtrack film perdananya Aku Dia dan Mereka. Buat proyek keduanya, Satu Lagi, Peter Pan pun didaulat untuk mengisi original soundtrack dengan singel andalan Kami Tertawa. Rencananya apabila tidak ada halangan Juni tahun ini kita sudah bisa menyaksikan film Satu Lagi, yang bertema parodi.

Bawa ke Indonesia
Masalah screening di negara asal tempat mereka kuliah pastinya bukan masalah. Karena market-nya jelas dan bisa dipastikan semua modal produksi balik 100 persen. Tantangan tentunya datang saat memutuskan untuk membawa film mereka diputar di Indonesia. “Tantangan banget. Soalnya market Indonesia (khususnya Jakarta) selektif banget,” aku Putra. “Gue juga tidak mau dikira sombong. Soalnya, orang pasti mikir kalo kami yang datang dari luar cuma gaya-gayaan saja bikin film. Padahal enggak, kami cuma mau film kami ditonton, tidak lebih. Gue juga ngerasa beruntung dapat banyak dukungan,” tambah Marianne.

Walaupun banyak yang datang bukan dari sekolah film, tetapi umumnya mengaku bahwa ilmu saat kuliah pasti sangat berguna untuk kepentingan filmnya. Revel, misalnya, cowok yang mengambil marketing di Charles Strut University ini mengaku kalo ilmu marketingnya berguna sekali saat “menjual” filmnya ke sponsor. “Gue juga jadi kenal banyak orang. Mulai dari lingkungan kampus sampai media. Pengaturan bujet untuk screening juga bisa dipangkas,” papar Revel.

Kecintaan pada filmlah yang membuat mereka semua bertemu dalam satu bidang. Walaupun latar belakang kuliah tidak ada yang di bidang film, mereka tetap yakin sama jalur yang mereka tempuh. Selama kesempatan itu ada, kenapa juga tidak direbut?

Soundtrack Film Pelangi Di Atas Prahara
Lea Simanjuntak – The One You Loved

Untuk Info Lain Dan Download Lagu Lea Simanjuntak – The One You Loved, Klik Disini

1 Comment

  1. madzz said,

    haloo salam kenal mau gak tu keran link ama aq klo u mau lihaten blog ku yaa lalu tuliskan web mu di coment ato yg lain ntar tak daftarin di blog rolll ku ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: